Iket dan blangkon, menjadi stereotip mbah dukun, tukang santet, dan ahli ramal

Senin, 27/07/2020 Kategori: Opini
Sayang beribu sayang..
Pakaian "jawa" , terkhusus iket dan blangkon, menjadi stereotip mbah dukun, tukang santet, dan ahli ramal, yang semuanya itu identik dengan nuansa magis penyembah setan..
Padahal blangkon/iket adalah produk asli kaum Muslimin untuk mensyiarkan simbol-simbol keislaman di tanah Jawa..
BELUM selesai soal iket, beberapa waktu lalu tercipta lagu campuran berbahasa Jawa dan bahasa asing yg mempertontonkan wajah menyeramkan layaknya setan..ngeringeri sedap liatnya..
Padahal,klo kita telusuri lebih dalam, sastra jawa itu penuh dengan ajaran syariat Islam..
Klo lilike kurang percaya, silahkan dicari di Serat Cipta Waskitha (Pupuh I: Dhandhanggula bait ke 16):
"Utamane wong urip puniki, nglakonane srengat Nabi kita, Salat jakat wruh Islame, lan sarake Jeng Rasul,sira padha wajib nglakoni, lamun tan ngawruhana, dadi nora manut, wirayate Sri Narendra, lawan sapa kang arsa agawe napi, prayoga sembahyanga"..
"Yang utama bagi orang hidup itu, menjalani syariat Nabi kita, shalat, zakat, mengetahui hukum Islamnya,dan syaraknya Rasulullah, kau semua wajib menjalani, bila tidak mengetahui, maka tidak dapat menjalaninya, tersebutlah Sang Maha Raja, kepada siapa yang akan berbuat sesuatu, lebih baik dirikanlah shalat.."
'Ala kulli haal.. fenomena inilah yg membuat saya smakin tertarik memperdalam sejarah di Nusantara, terkhusus sejarah Islam di tanah Jawa yg budayanya banyak dianggap penuh nuansa magis oleh orang2 yang belum tau...
Dipungkiri atau tidak, pada kenyataannya ISLAM sudah banyak mewarnai corak kebudayaan di tanah Jawa lik !
Ahadun Ahad !
Buat Postingan