Dalam Sejarahnya, Demi Buah Sukun, Pelaut Eropa Rela Melintasi Samudra Pasifik

ASALPOSTING.COM – Sukun adalah nama sejenis pohon yang berbuah, tidak berbiji dan memiliki bagian yang empuk, yang mirip roti setelah dimasak atau digoreng.

Bahkan beberapa ahli tanaman menyatakan bahwa sukun adalah buah super untuk masa depan, yang punya potensi jadi solusi masalah kelaparan dunia.

Buah sukun memiliki banyak kelebihan, diantaranya: sukun bisa menghasilkan 50 sampai 150 buah dalam setahun, dan daunnya bisa digunakan sebagai pakan ternak.

Buah ini dipercaya berasal dari Semenanjung Melayu Kepulauan Pasifik Barat, yang kemudian menyebar ke berbagai belahan bumi lainnya.

Buah sukun pernah menarik hati penjelajah eropa dan akhirnya sukun dibawa ke benua amerika untuk dibudidaya kan.

Orang eropa sangat kagum dengan pohon sukun yang sangat produktif. selain itu sukun yang masak tekstur dan rasanya seperti roti, itulah mengapa buah ini disebut “Bread Fruit”

Pada 1768, Kapten James Cook berangkat dengan kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris HMS Endeavour, dengan ahli botani Inggris Sir Joseph Bank turut serta, pelayaran penjelajahan mereka termasuk berhenti tiga bulan di Tahiti. Di sini, kedua pria itu dengan cepat tertarik dengan potensi sukun untuk memberi makan budak di Hindia Barat Inggris. Apalagi, pohon sukun bisa tumbuh dengan cepat, tak butuh perawatan khusus, dan menghasilkan buah dengan karbohidrat tinggi.

Ketika kembali ke Inggris, Banks (yang kemudian menjadi presiden Royal Society, institusi ilmiah nasional tertua di dunia), mengabarkan pada King George III tentang temuan mereka. Ahli botani itu bahkan menawarkan hadiah untuk siapapun yang bisa membawa 1.000 buah sukun dari Tahiti ke Hindia Barat.

Hampir dua dekade setelah ekspedisi awal Kapten Cook, Raja George III menunjuk Letnan William Bligh untuk memimpin ekspedisi sukun ke Tahiti.

Pada 28 November 1787, Bligh mengangkat sauh dengan krunya di kapal HMS Bounty.

Perjalanan mereka sulit sejak awal.

Angin kencang dan badai secara signifikan memperlambat perjalanan mereka, dan setelah tiba di Tahiti, Bligh dan krunya harus menunggu hingga lima bulan kemudian sebelum kapalnya siap mengangkut.

Ketika mereka bersiap berlayar dari perairan Karibia, kru Bligh sudah terbiasa dengan kehidupan pulau — dan pada perempuan Tahiti. Banyak dari mereka yang tak ingin pergi.

Jadi, pada tanggal 29 April 1789, hanya satu bulan dari perjalanan mereka melintasi Pasifik Selatan menuju Hindia Barat, asisten Letnan Fletcher Christian dan 18 anggota kru lain yang tak puas, memaksa Bligh dan 18 pendukungnya, masuk ke kapal sepanjang 7 meter, membuang mereka ke laut lepas, melempar semua tanaman sukun ke laut, dan berlayar.

“Pemberontakan Para Pemburu Hadiah” itu hingga kini menjadi legenda, dan banyak sejarawan percaya bahwa itu terjadi karena mereka yang mendukung Christian berpikir bahwa dia bisa membantu mereka kembali ke Tahiti — sesuatu yang pada akhirnya memang terjadi, meskipun tak seperti rencana semula.

Bligh dan krunya secara mengejutkan berhasil selamat, dengan hanya menggunakan insting dan ingatan mereka sepanjang 3.618 mil laut, atau 6,701 kilometer, selama 48 hari, hingga tiba di Timor.

Bligh segera kembali ke Inggris, di mana dia dibebaskan dari segala tuduhan, dan dua tahun kemudian kembali berlayar ke Tahiti, kali ini berhasil menyelesaikan misinya. Faktanya, beberapa pohon yang dibawa oleh Bligh dikabarkan masih menghasilkan buah sukun di Jamaika.

Saat ini, sukun ada di daerah tropis di sekitar 90 negara di dunia, termasuk di Indonesia, Venezuela (disebut pan de ano) dan India (kadachakka).

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *