Sejarah Keislaman Puyang Meraje Besi, Sang Pendiri Desa Dangku

ASALPOSTING.COM – Pada suatu hari ayah Maraja Besi (Malim Mukadim) bertemu dengan Karib Muarib (Puyang Tanah Abang PALI), ayah Maraja Besi menyampaikan kepada Karib Muarib agar mengajak Maraja Besi masuk Agama Islam.

Setelah kembali ke Tanah Abang, maka Karib Muarib segera menemui Maraja Besi dan menyampaikan pesan ayahnya tersebut dan Maraja Besi menjawab, “ Karib Muarib kita adu kesaktian dulu dengan melemparkan tombak keatas, kalau tombakku tidak kembali berarti aku kalah dan aku akan masuk agama islam, “.

Karib Muarib pun menyanggupi untuk mengadu kesaktian tersebut dan akhirnya Tombak Maraja Besi yang dilemparkan keatas tidak kembali lagi sedangkan tombak Karib Muarib jatuh tepat didepan Maraja Besi, maka Maraja Besi mengaku kalah dan diapun menyatakan masuk agama islam.
Dari kejadian itu maka nama Maraja Besi berganti menjadi Muhammad Fadillah.

Musim Penugalan Di Dusun Lame.

Setelah selesai penugalan Maraja Besi menyampaikan suatu sayembara, “Barang siapa yang melemparkan tombak dapat masuk kedalam lobang Burung Belatok yang berada di atas kayu Manggris itu, maka dia akan aku nikahkan dengan anakku Bundan”.

Menurut cerita, sekitar 40 orang yang mengikuti sayembara tersebut dan tidak ada satupun yang berhasil, tinggal satu orang yang belum mengikuti sayembara yaitu Juring ( berasal dari jambu, orangnya lemah dan banyak koreng ditubuhnya ) , maka peserta sayembara lainnya menemui juring dan mengatakan,” Juring sekarang giliran kamu,
Juring menjawab,” Kamu yang sehat, kuat tidak berhasil, apalagi aku yang lemah dan korengan,”.

Karena semua peserta sayembara belum ada yang berhasil, maka Maraja Besi menyuruh Juring untuk mengikuti sayembara, Juring mencabut anak kayu dan hanya dengan melurut dengan tangannya Juring membersihkan ranting dan daun kayu tersebut sehingga jadi lah sebuah tombak.

Dengan kesaktiannya tombak dilemparkan dan tepat mengenai lobang Burung Belatok di kayu manggris itu, maka Maraja Besi menyatakan Juring sebagai pemenang sayembara dan akan menikahkan dengan anaknya Mundan.

Setelah itu Juring dibawa kerumah dan disuruh mandi di Lubok Bundan, selama tiga hari tiga malam Juring berdiam di dalam Lubok Mundan dan suatu keajaiban ketika keluar dari Lubok Mundan, Juring berubah menjadi pemuda yang sangat tampan dan koreng yang ada ditubuhnya hilang tidak ada lagi.

Menuruit cerita, pesta pernikahan Mundan dan Juring dirayakan selama 7 hari 7 malam.

Pada suatu hari Puyang Juring teringat anaknye Kuyung, karena sejak umur 15 Tahun Kuyung sudah merantau dan sudah 8 tahun belum pernah kembali, menurut kabar Rie Kuyung berada di daerah Pasema ( Lintang ).

Akhirnya pamitlah Puyang Juring kepada istrinya Mundan, hanya dengan membawa bungkusan kain yang diikatkan dibelakang yang berisi pakaian berangkatlah Puyang Juring untuk mencari anaknya Kuyung.

Setelah beberapa minggu menempuh perjalanan, Puyang Juring tiba di suatu dusun sebelum pesemah ( Lintang ).

Setelah memasuki dusun itu Puyang Juring ditegur orang dusun itu:” mamak mau kemana.?”
Puyang Juring menjawab:” Aku mau ke Dusun Pasemah, kira – kira berapa jauh lagi baru sampai di Dusun Pasemah.?”

Orang Dusun menjawab:” Tidak jauh lagi kira – kira satu hari perjalanan baru sampai, tapi daerah itu sangat berbahaya karena setiap orang yang melalui daerah itu akan di rampok, siapa yang melawan akan dibunuhnya, sudah banyak tengkorak kepala orang yang berada dipinggir jalan itu, jadi mamak lebih tidak usah pergi kesana,”

Baca Juga: “Asal Mula Desa Dangku Dan Hikayat Sungai Lematang”

Namun Puyang Juring tetap menuju kesana, tidak akan kembali sebelum menemukan anaknya.
Ditengah perjalanan menuju Pasemah, Puyang Juring dihadang oleh para perampok dan Puyang Juring pun melihat memang banyak tengkorak berserakan dipinggir jalan.
Salah satu orang menghadang di depan Puyang Juring dan berkata :“mamak mau kemana.?”
Puyang Juring menjawab:” aku mau ke Dusun Pasemah,”
Orang itupun berkata:“ mamak boleh melewati tempat ini, tapi serahkan dulu barang yang mamak bawa,”.
Puyang Juring menjawab:” kamu boleh mengambil barangku, tapi langkahi dulu mayatku,”.

Akhirnya terjadilah pertarungan selama tiga hari tiga malam, karena kesaktian Puyang Juring lebih tinggi sehingga perampok itu mulai kewalahan dan hampir kalah.

Pada saat itulah perampok itu menepuk dada dan berucap:” Aku anak Juring, cucung Maraja Besi idak numpang wali urang,”
Puyang Juring pun menepuk dada dan berucap:” Akulah Juring, menantu Maraja Besi idak numpang wali urang.”

Perampok itu terkejut, dan iapun bersujud sambil meminta maaf kepada Puyang Juring.
Puyang Juring pun berkata:” Anakku Kuyung berhentilah merampok, lebih baik kita kembali ke Desa Dangku,”.
Akhirnya mereka pun bersama – sama kembali ke Desa Dangku.

Setelah kembali ke Desa Dangku, beberapa tahun kemudian Kuyung diberikan kepercayaan untuk memimpin Desa Dangku. Setelah memegang pemerintahan di Desa Dangku mendapat gelar Rie maka namanya menjadi Rie Kuyung.

Pada masa Pemerintahan Rie Kuyung.

Pada masa itu, Desa Dangku tunduk dibawa Pemerintahan Kesultanan Palembang, maka setiap tahun harus memberikan upeti kepada Kesultanan Palembang, sehingga pada suatu hari Desa Dangku harus memberikan upeti berupa rotan sebanyak 50 btg setiap keluarga dan disampaikan kepada Sultan di Palembang.

Rie Kuyung memerintahkan kepada hulubalangnya untuk mengambil rotan sebanyak 1 ( satu ) batang yang besar, bagus dan panjang.

Maka berangkatlah Rie Kuyung beserta hulubalangnya ke Palembang untuk menyerahkan upeti sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Sultan Palembang.

Setelah tiba di Kesultanan Palembang, setiap orang dipangggil satu persatu sambil menyerahkan rotan sebagai upeti yang jumlahnya sangat banyak dan ketika Rie Kuyung dipanggil, Rie Kuyung hanya membawa sebatang rotan.

Sultan Palembang memerintahkan untuk upeti tahun depan kalian harus menyerahkan sahang, kalian harus meminta upeti kepada rakyat sekulak gugur mayang untuk setiap keluarga.

Setahun kemudian, Rie Kuyung memerintahkan kepada hulubalangnya untuk mencari sekarung buah kenidai, setelah itu jemur kering – kering karena minggu depan kita ke Palembang untuk menyerahkan upeti kepada Sultan.

Maka berangkatlah Rie Kuyung beserta hulubalangnya ke Palembang untuk mengantarkan upeti, setelah semua berkumpul lalu dipanggil satu persatu sambil menyerahkan upeti, Sultan mengambil sebutir dan digigitnya , buah itu terasa pedas, maka benar itu buah sahang.
Lalu Rie Kuyung dipanggil Sultan dan menyerahkan sekarung sahang.

Silsilah Keturunan Meraje Besi:


sumber gambar: “http://103.98.120.27/webdesa/muara-enim/dangku/pages/sejarah”

Maraja Besi mempunyai istri 2 ( dua ) orang :
1.Katijah ( berasal dari Kerajaan Majapahit ), mempunyai anak :
⇒Rie Penggawang.
2. Rukiyah ( berasal dari Kerajaan Aceh ), mempunyai anak 4 ( empat ) orang :
1. Mundan ( Menikah dengan Puyang Juring yang berasal dari Jambu – Lembak )
2. Kemundan ( Menikah dengan orang Jirak )
3. Resundan
4. Sariundan ( Menikah dengan orang Musi )

Rie Pengggawang ⇒ Rie Turas ⇒ Rebia x Macan Tutul ⇒ Puyang Raje (Muanye) ⇒  Depati Raje Lele (Mangsut) ⇒ Depati Kecan ⇒ Depati Singe Medang (Mansur)  ⇒ Depati Tembajang (Gutame) ⇒ Depati Rendot.

Mundan menikah dengan Puyang Juring ( Nama aslinya Muslim ), anaknya :
Puyang Dali , anaknya :
Permate Anom
Permate Keling
Singe Nate
Permate Bungsu

Puyang Rie Kuyung , anaknya :
Dayang Remak , menikah dengan Raden Tokak ( Raja Buaya ).
Dayang Kemale , menikah dengan Raden Gambir Melayang ( Raja Harimau ).
Kuane, ( tidak ada keturunan ).
Dayang Rindu, menikah dengan Tuan Tembikur ( berasal dari Komering ).

Kemundan
Siundan Depati Kotak – Singe Nate

Sarimundan
Permate Anom, anaknya :
Permate Keling, anaknya :
Singe Nate, anaknya :
Depati Bastomi, anaknya :
Depati Kotak ( Depati Bawean ), anaknya :
Pangeran Muhamad Ali, anaknya :
Pangeran Kuncit

Pangeran Muhamad Ali ( istrinya 3 orang ) :
Nawar ( dari Tanah Abang ), anaknye :
Norsayu
Pangeran Kuncit
Norsena( Kelawai Desayim ) tdk ada keturunan
( Kelawai Rekaman ), anaknye :
Arina
Ariun
Aria ( Mati gadis )

Norsayu ( Menikah dengan Depati Bonang dari Desa Curup ), anaknye 1 ( satu ) orang :
Surna

Pangeran Kuncit ( istrinya 2 orang ) :
Seha ( Istri Pertama dari Desa Dangku ) , anaknye :
Depati Sunjung
Pembarap Said
Mas Bungsu
Masrindu

Sarimas Binti Rencang ( Istri Kedua dari Desa Karangan ), anaknye :
Depati Nanang
Mastayu

Norsena ( Menikah dengan Nyata dari Desa Dangku ) anaknye :
Runa
Suro
Kuna
Mukiya
Mukina
Bunaya
Permate Bungsu, anaknye :
Jabon, anaknye :
Redul, anaknye :
Behamat, anaknye :
Belatung, anaknye :
Bedat, anaknye :
Suron
Cindut
Nona
Makna
Mahina
Mahudan

 

 

sumber: .”https://facebook.com/harsono.telkom/posts/3003457019778135″

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published.