Seorang Muslim Memberikan Hibah kepada Non Muslim, Apa Hukumnya .?

ASALPOSTING.COM  –Secara bahasa hibah adalah pemberian secara cuma-cuma atau sukarela.

Menurut Wikipedia, hibah adalah pemberian yang dilakukan oleh seseorang kepada pihak lain yang dilakukan ketika masih hidup dan pelaksanaan pembagiannya dilakukan pada waktu penghibah masih hidup juga.

Hibah juga seringkali disamakan dengan warisan. Warisan lazimnya hanya diberikan kepada orang-orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Sementara hibah bisa diberikan kepada siapa pun, termasuk di luar keluarga.

Di hukum Indonesia, hibah juga diatur dalam hukum perdata, salah satunya dalam Pasal 166 dan Pasal 167. Hibah adalah dianggap sebagai hadiah atau pemberian kepada orang lain secara sukarela dan tidak dapat ditarik kembali. Pemberian hibah ini bisa berupa harta bergerak maupun harta tidak dan harus diberikan ketika pemberi hibah masih hidup.

 

Perbedaan Hadiah Dan Hibah

Hadiah biasanya diberikan sebagai bentuk rasa suka atau simpati kepada orang lain. Sedangkan Hibah lebih fokus pada pemberian barang / kepemilikan kepada pihak tertentu tanpa adanya intensi. Biasanya tujuan hibah adalah untuk memberikan kebermanfaatan kepada penerima.

Berdasarkan Fungsinya, Hibah Dibagi 2 Macam:

1.Hibah manfaat
Merupakan pemberian atas manfaat barang saja, sehingga barangnya sendiri masih menjadi milik pemberi hibah. Hibah manfaat ini memiliki dua kategori yaitu hibah muajjalah (hibah dengan jangka waktu) dan hibah al-amri (hibah seumur hidup).

2.Hibah barang
Merupakan hibah yang diberikan atas barang dan manfaat di dalamnya. Hibah jenis ini tidak dapat ditarik kembali. Contoh hibah barang: tanah, rumah, kendaraan, dll

 

Sedangkan menurut istilah syariat islam, Hibah adalah mengalihkan hak kepemilikan suatu benda kepada pihak lain dengan tanpa imbalan.

Demikian sebagaimana yang kami pahami dari keterangan dalam Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah berikut ini:

الْهِبَةُ لُغَةً : الْعَطِيَّةُ الْخَالِيَةُ عَنِ الأْعْوَاضِ وَالأْغْرَاضِ ، أَوِ التَّبَرُّعُ بِمَا يَنْفَعُ الْمَوْهُوبَ لَهُ مُطْلَقًا . وَهِيَ شَرْعًا : تَمْلِيكُ الْعَيْنِ بِلاَ عِوَضٍ

Artinya:
“Hibah secara bahasa adalah pemberian terlepas dari imbalan dan tujuan tertentu, atau bisa pemberian dengan secara cuma-cuma sesuatu yang bermanfaat bagi pihak penerima hibah secara mutlak.”

Sedang menurut syara: “Hibah adalah mengalihkan hak kepemilikan suatu benda kepada pihak lain dengan tanpa imbalan.”(Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah juz I, halaman 144).

Dari sini kemudian muncul pertanyaan, bagaimana jika seorang Muslim memberikan hibah kepada non-Muslim?
Untuk menjawab pertanyaan ini maka kami akan menghadirkan pandangan Ali As-Saghdi seorang ulama dari kalangan Madzhab Hanafi.

Menurutnya, boleh saja seorang Muslim memberikan hibah kepada non-Muslim. Hal ini sebagaimana yang kami pahami dari pernyataannya berikut ini:

وَاَمَّا هِبَةُ الْمُسْلِمِ لِلْكَافِرِ فَجَائِزَةٌ يَهُودِيًّا كَانَ اَوْ نَصْرَانِيًّا اَوْ مَجُوسِيًّا اَوْ مُسْتَأْمَنًا فِي دَارِ الْاِسْلَامِ

Artinya:
“Adapun hibah orang Muslim kepada orang kafir itu boleh, baik orang kafir tersebut adalah orang Yahudi, Nasrani, Majusi, atau kafir musta`man di negara Islam.”(Ali As-Saghdi, An-Nutaf fil Fatawi halaman 520).

Pandangan di atas menurut kami harus dibaca dalam konteks ketika apa yang dihibahkan itu memang bisa dimiliki oleh non-Muslim.

Kebolehan berhibah tersebut dalam pandangan kami setidaknya didasarkan salah satunya kepada firman Allah SWT ayat 8 Surat Al-Mumtahanah berikut ini:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya:
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”(Q.S Al-Mumtahanah Ayat:8).

Menurut Al-Kawasy—sebagiamana dikemukakan Ibnu Ajibah—ayat tersebut turun sebagai bentuk rukhshah atau keringan kebolehan menjalin berhubungan dengan berbagai pihak yang tidak memusuhi dan memerangi kaum Mukmin.

 

Menurutnya, ayat tersebut juga menunjukkan kebolehan berhubungan dan berbuat kebaikan kepada orang-orang non-Muslim yang tidak memerangi umat Islam, kendati loyalitas di antara mereka (non-Muslim) masih tetap kuat.

قَالَ الْكَوَاشِيُّ : نُزِلَتْ رُخْصَةً فِي صِلَةِ الَّذِينَ لَمْ يُعَادُوا الْمُؤْمِنِينَ وَلَمْ يُقَاتِلُوهُمْ . ثُمَّ قَالَ : وَفِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلَالَةٌ عَلَى جَوَازِ صِلَةِ الْكُفَّارِ ، اَلَّذِينَ لَمْ يَنْصُبُوا لِحَرْبِ الْمُسْلِمِينَ ، وَبِرِّهِمْ ، وَإِن انْقَطَعَتِ الْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمْ

Artinya:
“Al-Kawasi berkata, ‘Bahwa ayat ini diturunkan terkait kebolehan (rukhshah/keringanan) menyambung tali silaturahmi dengan orang-orang yang tidak memusuhi dan memerangi kaum mukmin.’

Kemudian ia berkata:

“Ayat ini menunjukkan kebolehan bersilaturahmi dan berbuat kebajikan kepada orang-orang kafir yang memerangi kaum Muslim, dan meski loyalitas di antara mereka tetap kuat.”(Ibnu ‘Ajibah, Al-Bahrul Madid, juz VIII, halaman 37).

Berangkat dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa boleh seorang Muslim memberikan hibah kepada non-Muslim karena hibah termasuk dari amal kebajikan (al-birr).

Tetapi tentu dengan catatan bahwa bahwa apa yang dihibahkan tersebut adalah sesuatu yang memang boleh dimiliki orang non-Muslim tersebut. Non-Muslim tersebut bukan termasuk dari kategori pihak yang memerangi umat Islam (kafir harbi).

 

Sumber: “Facebook.com”

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published.